Menemukan kesamaan antara dua orang hebat adalah hal yang biasa, ini menunjukan bahwa orang hebat berasal dari orang hebat sebelumnya. dengan kata lain orang menjadi hebat karena ia belajar dari orang hebat sebelumnya. kesamaan yang akan dipaparkan disini adalah kesamaan antara Steve Job, pemilik Apple dengan Akio Morita, CEO Sony. Menurut  kalian siapa yang belajar pada siapa? Kalo kalian belum membaca judulnya, rata-rata pasti menjawab, Akio Morita belajar pada Steve Job, dikarenakan Steve Job lebih kaya, lebih populer dan tentunya Apple lebih branded dibandingkan Sony. Ternyata asumsi tersebut salah, justru Steve Job lah yang belajar dari Akio Morita . Bahkan Steve Job, pernah berkata bahwa dia benar-benar ingin menjadi Sony, dia tidak ingin jadi Microsoft atau IBM. Dibawah ini akan dipaparkan hal-hal yang dipelajari Apple dari Akio Morita dan Jepang:

  1. Kreativitas

Yang dipelajari Apple dari Jepang anatara lain Kreativitas. Jepang merupakan salah satu negara dengan tingkat persaingan  yang sangat tinggi, untuk itu diperlukan kreativitas dalam menciptakan atau memasarkan suatu produk, jika tidak maka kita akan kehilangan konsumen apalagi Jepang dikenal dengan konsumen yang sangat rewel khususnya untuk barang-barang elektronik. Kreativitas tidak hanya pada perancangan produk tetapi juga pada pemasaran.

Apple selalu mengutamakan kreativitas pada ke dua tahap tersebut, dari perumusan sampai penyajian produk. Apple selalu menggunakan jasa agen periklanan terbaik, terkadang sampai mengadu antar agen supaya mereka terpacu. Tidak mengherankan apabila Apple identik dengan kreativitas

 

  1. Merebut hati konsumen

Jepang merupakan salah satu negara, dimana produk-produknya mampu menembus pasar Amerika. Yang dipelajari Apple kali ini adalah pengalihan konsumen. Produk-produk Jepang merupakan produk bermutu tinggi yang orang inginkan, dengan berbagai ragam yang mampu memuaskan semua kehendak. Steve Job belajar bahwa cara terbaik untuk bersaing dengan Jepang adalah dengan memeriksa rancangan, konstruksi dan konsep inovatif produk-produk Jepang yang berhasil.

Konsumen Jepang merupakan konsumen yang paling banyak maunya, mereka mengharapkan dan menuntut produk yang unggul dan tentunya hal ini segera direspon cepat oleh pabrik-pabrik Jepang dengan membuat produk sesuai dengan minat konsumen. Jika tidak begitu maka akan kalah bersaing yang ujungnya adalah gulung tikar. Jadi, bagi Steve Job, mengejutkan dan menyenangkan konsumen Jepang yang sulit dipuaskan merupakan sebuah tantangan besar, dan Apple tampaknya telah menjawab tantangan itu.

Produk-produk Apple terutama, iPhone sangat diminati di Jepang, ketika Iphone 5 diumumkan, seorang calon pembeli sudah mengantri di depan toko Apple di Ginza, Tokyo, sepuluh hari sebelum tanggal rilis. Sedangkan konsumen Jepang lain yang rela antri berbaris di belakang orang pertama, pada saat itu memakai jas hujan dan menantang topan yang melanda. Namun tepat sebelum topan sampai Tokyo, beberapa orang yang sudah antre dipindahkan ke toko Apple supaya bisa berteduh. Disana mereka diperbolehkan membawa barang bawaan mereka yang basah, beristirahat di teater Apple Store sampai pukul 10.00 dan bahkan diberi air minum botol. Pengalaman itu membuat salah seorang pengantre berkata “ Saya sangat tergerak dengan bagaimana Apple memperlakukan konsumen”

 

  1. Rancangan Masa Depan

Rancangan masa depan adalah salah satu yang dipelajari oleh Apple. Gerak industri Jepang pada tahun 1970 dan 1980 an adalah menuju barang-barang yang ringan, ramping, pendek dan kecil, diperkirakan bahwa ini juga akan berlaku pada masa depan.

Steve Job membuat iPod, iPhone dan iPad dengan tampilan yang minimalis dan elegan. Steve Job terus menerus berusaha memperbaiki dan menyederhanakannya.

 

  1. Tergesa-gesa itu sia-sia

Yang dipelajari Apple berikutnya adalah kesia-sian ketika tergesa-gesa. Orang Amerika dikenal dengan kecepatannya yang terkadang membuat mereka tergesa-gesa, tergesa-gesa di Amerika diwakilkan oleh kata-kata “tidak ada waktu lagi”, “lakukan sekarang” atau “yang ragu-ragu, kalah”.

Steve Jobs tidak pernah memaksa supaya suatu produk segera dipasarkan, tetapi memiliki jadwal tersendiri yang sudah terukur kapan harus dipasarkan. Steve Jobs selalu meluangkan cukup waktu untuk memastikan produk sempurna sampai bagian terkecilnya. Pada tim nya, Jobs selalu mengatakan “detail itu penting, jadi layak ditunggu sampai benar”

 

  1. Penciptaan Ulang

Di Jepang orang-orang sangat antusias dengan penemuan baru, mereka akan berkata, “bagaimana saya bisa menggunakannya?”, “Apa yang saya bisa buat dengan penemuan tersebut?, “Bagaimana cara menggunakannya untuk memproduksi produk yang berguna”. Dengan kata lain, meniru dan memodifikasi di Jepang bukanlah hal yang tabu dan memalukan namun menjadi sebuah kebiasaan baik. Seperti yang diucapkan Thomas Edison

“ Saya ini spons yang bagus, saya menyerap gagasan dan menggunakannya, sebagian besar gagasan saya awalnya milik orang-orang yang tak mau menggunakannya”

Sebagaimana Edison, Steve Jobs merupakan pereka ulang yang juga cepat mengenali dan memanfaatkan gagasan bagus. Jobs merupakan tipe orang yang membayangkan ulang dibandingkan dengan membayangkan pertama kali. Dia melihat layar komputer pribadi yang hanya menampilkan satu  jenis huruf kemudian memberi kita komputer pribadi pertama di dunia yang punya banyak jenis huruf, mouse dan tampilan pengguna grafis. Jobs mengambil pemutar MP3 yang canggung dengan memori terbatas dan tampilan pengguna merepotkan kemudian mengubahnya menjadi pemutar musik iPod yang luwes, mungil dan dirancang intuitif. Dia mengambil telepon seluler lipat dengan tampilan dan akses web yang menyulitkan pengguna dengan tombol-tombol kecil dan memberi kita layar sentuh, sistem operasi ramah pengguna dan banyak aplikasi yang berguna. Dia mengambil tablet berbaris pena dan memberi kita iPad yang elegan.

 

Jobs meminjam dan kemudian memperbaiki praktik bisnis Sony, yang sangat penting dalam membuat produk-produk Apple menarik bagi semua orang, termasuk konsumen Jepang yang menuntut produk terbaik.

baca juga artikel mengenai info ekonomi, klik disini

 

Adreena_RhamizJ

Author

Write A Comment